Tag

, , ,

Di balik cadar Azizah, kutemukan seribu rahasia keindahan. Semenjak remaja, terpatri dalam ingatanku bahwa sebagian masyarakat di sekitarku memandang buruk para wanita bercadar. Aku ingat betul itu.

Sebagian beranggapan itu sikap berlebihan dari orang-orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tak tahu jalannya. Ini ungkapan yang dipilih sebagian guru-guru mengaji di kampungku. Karena aku tahu betul bahwa istri dan anak-anak perempuan mereka, jangankan memakai cadar, berjilbab pun tidak. Saat itu, jilbab belum marak seperti sekarang ini. Kebanyakan istri ustadz dan juru dakwah waktu itu belum mengenal jilbab. Yang mereka kenakan hanya kerudung tipis transparan yang digunakan khusus pada acara-acara keislaman saja. Para wanita yang tampil berjilbab rapat dipandang aneh, asing dan menggelikan. Bercadar ? tak ada dalam kamus mereka sama sekali. “Itu warisan budaya Arab kuno,” ini pendapat sebagian lain dari masyarakatku.

Di awal 80-an, cadar lalu diidentikkan dengan kebiasaan sebagian kaum wanita pengikut organisasi Islam Darul Arqam, asal Malaysia. Saat itu, bila ada wanita bercadar, maka yang pertama kali akan ditanyakan kepadanya, “Anda dari Darul Arqam?”

Padahal, tak ada keterkaitan sama sekali antara cadar sebagai bagian dari atribut keislaman wanita muslimah sebagai penyempurna penutup auratnya, dengan Darul Arqam, saat organisasi ini dibubarkan, para pengikut Darul Arqam meninggalkan cadar. Organisasi mereka berganti nama menjadi Ar-Rufaqaa, dan kaum wanitanya kini mengenakan jilbab gaul yang trendy. Tak ada jilbab lebar, apalagi cadar. Terbukti sudah, bahwa cadar tak ada kaitannnya dengan Darul Arqam.

Era akhir sembilan puluhan, terorisme di tanah air menggeliat. Sebagian tokoh yang diyakini sebagai pelaku pengeboman ditangkap. Payahnya, sebagian di antara istri mereka bercadar. Maka muncullah stigma gegabah yang berkembang pada sebagian masyarakat akibat propaganda sebagian kalangan. Apabila melihat wanita bercadar seolah menyala alarm halus di otak mereka memberi peringatan, “Teroris”.

Saat masyarakat tanah air terkena demam film Ayat-ayat Cinta, cadar mulai ‘sedikit’ dimaafkan. Stigma terorisme yang melekat pada pemakai cadar mulai berkurang. Tapi pandangan sebagian masyarakat terhadap wanita yang mengenakan cadar masih cenderung miring. Setidaknya, mereka masih lazim berkomentar, “Golongan ekstrim”.

Dari Azizah, kudapati kenyataan-kenyataan yang jauh berbeda yang selama ini melekat di persepsi kami tentang wanita bercadar. Kesan eksklusifisme, merasa shalihah sendiri, tidak ramah, kurang pandai bergaul, ekstrim, kerasa tak menentu, tak kulihat sama sekali pada dirinya. Samar-samar mulai terbangun pengertian baru dalam diriku, seperti yang diingatkan dalam sebuah syair Arab,

“Mata yang mencintai kadang buta mengenali segala kekurangan.

Mata yang tidak mencintai seringkali menampakkan hal-hal yang buruk saja”

 

umumnya tetanggaku menyukai sosok Azizah sehingga secara sukarela menitipkan anak-anak gadis mereka ke mushalla kami untuk menimba ilmu dari Azizah. Itu realitas yang tak terbantahkan.

Rumah kami adalah rumah yang paling banyak didatangi anak-anak untuk sekadar bermain dan bersenang-senang. Tak ada kesan takut, khawatir atau risih yang tergambar di wajah mereka melihat keberadaan Azizah. “Main ke rumah ibu bercadar yo…!”. Kalimat itu sering kudengar langsung atau tidak langsung dari sebagian anak-anak kecil tetanggaku.

Tak disangkal bahwa kalimat-kalimat iseng dari sebagian remaja yang menyapa istriku diam-diam dengan ungkapan “ninja”dan sejenisnya kadang kudengar. Tapi dapatlah dipastikan bahwa itu meluncur dari kumpulan anak-anak yang memang tak memiliki kerja selain mencemooh orang lain. Siapa pun yang ada di hadapan mereka dengan tampilan apapun, akan mudah saja menjadi bahan cemoohan mereka. Tapi, betapa sedikitnya jumlah orang-orang seperti itu.

Azizah juga sering mengajakku untuk mengikuti kegiatan-kegiatan kampung yang ia pandang bermanfaat. Ada perkumpulan RT, bahkan juga arisan ibu-ibu. Azizah mengikuti semua kegiatan itu dengan tetap menjaga kehormatan dirinya sebagai wanita muslimah, memelihara hijabnya, dan bersikap santun pada siapa saja. Tapi, jangan sekali-kali mengajaknya untuk kegiatan-kegiatan berbau maksiat. Ia akan menjadi orang terdepan yang menolaknya mentah-mentah.

Aku meghormati setiap orang dengan pilihannya. Dalam soal memilih pakaian, setiap orang juga bebas memilih yang dia anggap paling patut, paling layak, paling nyaman, dan paling sesuai dengan selera mereka masing-masing.

Hanya, dalam Islam ada rambu-rambu dan batasan etika yang wajib ditaati. Pakaian dalam Islam harus berfungsi menutup, melindungi, dan tidak memperlihatkan sama sekali wujud, bentuk, dam warna dari aurat. Itu yang pasti.

Maka, akupun menghormati wanita muslimah yang memilih berpakaian biasa, dengan kerudung biasa yang hanya “mampir” sedikit di kepalanya, karena pasti dalam pandangan mereka itu adalah pakaian yang pantas. Pengetahuan orang tentang batas-batas aturan berpakaian menurut ajaran agamanya tak bisa dipaksakan harus sama.

Begitu juga wanita muslimah yang memilih berpakaian gombrong dan berjilbab lebar tanpa mengenakan cadar. Mereka sangat kuhormati dengan pilihan mereka, karena bagi mereka itulah batas wajib yang harus mereka lakukan, selebihnya tidak harus. Bagaimana pula orang harus dipaksa melakukan sesuatu yang baginya itu tidaklah harus?

Namun, begitu pula pandanganku pada wanita muslimah yang memilih berhijab rapat, lengkap dengan kerudung lebar dan cadarnya. Bagi mereka itu adalah pilihan terbaik. Kalaupun para ulama berbeda pendapat soal wajib atau sunnahnya cadar, mereka memilih yang paling selamat. Kalaupun tak wajib, mereka tetap beroleh pahala sunnah. Kalau wajib, selamatlah mereka dari kewajiban itu. Sebagaimana aku menghormati setiap wanita muslimah dengan pilihannya, begitu pula aku menghormati wanita bercadar dengan segala pilihannya.

Tapi, aku tidak sedang membicarakan soal itu. Soal yang terkait dengan pilihan Azizah untuk bercadar. Yang ingin aku ungkapkan betapa di balik cadarnya, Azizah mengabarkan kepadaku banyak sekali keindahan.

Keindahan-keindahan itu menepis jauh anggapan-anggapan buruk terhadap wanita-wanita yang menurut sebagian masyarakat ‘berlindung’ di balik cadarnya.

Di antara keindahan itu adalah perpaduan antara kebagusan akhlak dan perilaku, kepatuhan pada hukum kebenaran, dan optimalisasi potensi diri demi tujuan memberi manfaat pada siapapun.

Artinya, Azizah berusaha -dengan segala keterbatasannya- untuk memberi sumbangsih terbaik bagi orang-orang di sekitarnya. Itu dilakukan dengan keramahannya pada tetangga, dengan banyak bersedekah, mengajari anak-anak muslim dan muslimah apa yang wajib mereka ketahui dari ajaran agama mereka, hingga menciptakan rasa aman bagi masyarakat di sekitarnya dengan menghindari perbuatan nista.

Kepadaku, suaminya, Azizah juga berusaha memberikan sumbangsih terbesarnya.  Ia hadir di sisiku tak hanya sebagai seorang istri yang patuh, tapi juga sahabat yang baik, teman yang menyenangkan, guru yang prihatin atas kenaifan-kenaifanku, sahabat seiman yang bersamaku saling mengingatkan atas kewajiban-kewajiban kami, hingga sebagai tetangga yang baik dan penuh pengertian.

Dengan segala sikapnya Azizah memberitahuku akan sikap sepatutnya seorang muslim terhadap saudaranya. Bahwa sebagai wanita yang mengenakan cadar dalam kesehariannya di luar rumah, Azizah adalah wanita biasa, manusia biasa. Maka sikap dan perilakunya yang biasa kepada siapa pun merupakan isyarat bagiku, bahwa kita pun harus menyikapi wanita-wanita seperti Azizah ini secara biasa. Karena tak ada bedanya antara mereka dengan kita. Kalau ketakwaan itu ada di dalam dada, maka cadar dan jilbab bukanlah segala-galanya.

 

Abu Umar Basyier, Meniti Di Atas Kabut – Sandiwara Langit 2.