Tag

, , , ,

1. Plasebo Efek

obat Tahu nggak kalau tepung saja bisa menyembuhkan penyakit ? Meskipun persentasinya kecil ( kadang kurang dari 1 persen) dapat ditemukan  didalam beberapa jurnal penelitian, misalkan :  jika 1000 orang diberikan tablet  yang tidak mengandung bahan aktif maka beberapa diantaranya tetap mengalami  kesembuhan.  Hal ini disebabkan karena peneliti  melakukan uji silang yang akan melihat bagaimana jika obat tanpa bahan aktif dibandingkan dengan obat yang berbahan aktif. Namun nggak usah kuatir karena Para peneliti mempunyai standar uji klinis yang diatur secara ketat sehingga saat melaksanakan penelitian kepada manusia  dilakukan dengan etis.

Ketika laporan penelitian itu dipublikasikan, maka tiba-tiba saja muncul yang namanya plasebo efek, alias efek pasien yang sembuh ketika tidak diberikan obat. Biasanya efek ini tidak terlalu besar dan sangat kecil,meskipun demikian plasebo efek ini bukanlah tujuan pengobatan. Jadi nggak bisa disimpulkan kalau plasebo efek ini akan menjadi legitimasi anda untuk memberikan obat palsu.

Ingatlah,  jika anda  memberikan tepung pada pasien, hal tersebut sangat merugikan pasien dan termasuk tindakan kriminal. Jadi nggak usah mengharapkan anda mengobati pasien dengan rujukan penelitian plasebo efek.

2.Tablet 500 mg, tidak pernah ada !
Jangan anda pernah berpikir bahwa tablet  merek X  500 mg maka obat yang dikandung didalamnya mengandung tepat 500 mg. Tapi kandungan obat itu bisa lebih atau kurang. Tentu saja pada saat penimbangan obat tersebut diambil sejumlah total yang diharapkan. Namun ketika diuji di laboratorium maka obat tersebut  tidak akan mengandung 500 mg  loh. Kok bisa demikian ? hal itu disebabkan dalam pembuatan obat  setiap apoteker  mengacu kepada standar umum yaitu Farmakope Indonesia.  Didalam  Farmakope disebutkan  bahwa “tablet X rentang kadar obat X antara 495 mg-510 mg”.  Jadi  kandungan obat selalu dalam rentang yang disyaratkan oleh Farmakope.

Tablet …500 mg ? Hmmm, coba anda bertanya pada setiap peneliti di departemen quality control di semua pabrik farmasi di seluruh dunia. Adakah obat yang kandungan kadarnya 500,00 mg ….sangat jarang bahkan mungkin nggak ada.

3. Obat sebelumnya diujikan pada hewan loh.
Anda penyayang binatang ? Siap-siap saja anda bakal terenyuh,  Para peneliti biasa menggunakan hewan untuk melakukan uji obat-obatan. Mulai dari tikus, kelinci, anjing bahkan Monyet. Biasanya para ahli  itu ingin mengetahui efek-efek obat yang diberikan, misalkan  : menghilangkan nyeri, obat tidur, obat bius, dll..

Dosisnya tentu disesuaikan dengan binatang yang diujikan. Kalau mau melakukan pengujian nih biasanya para peneliti menyiapkan beberapa hewan uji dan kemudian memberikan obat dan pembandingnya untuk melihat efek yang dicari. Tidak menutup kemungkinan hewan yang diujikan itu terbunuh atau bahkan menderita karena uji yang dilakukan.Namun dari hasil penelitian ini kemudian didapat manfaat pengobatan kepada manusia, sehingga berbagai macam obat dapat dikonsumsi dan disebarkan keseluruh dunia.

4.  Apoteker Tahu Obat tapi tidak diajari jenis Penyakit  !
Apoteker itu tahu semua jenis obat-obatan ketika dia lulus dari pendidikan apoteker, namun untuk spesifikasi penyakit jangan harap apoteker bisa paham. Baiklah, saya berikan ilustrasinya. Jika seorang gatal-gatal dan pergi  berobat, apoteker yang  tidak pengalaman pasti tidak bisa membedakan  penyebab gatal antara, Bakteri, Virus, Jamur atau alergi Biasa, namun apoteker tahu dan paham obat-obatan untuk mengobati penyakit kulit yang disebabkan oleh Bakteri, Virus, Jamur, atau alergi biasa. Hal tersebut karena apoteker diberikan pendidikan mengenai obat-obatan sementara mengenai penyakit dan penyebab-penyebabnya dokter diajari lebih banyak.

Jadi jika anda bertanya dengan Apoteker, pastikan anda tahu penyebab penyakit anda dengan sebelumnya pergi ke dokter.

5.  Obat  Baru itu Nggak ada !
Jika ada sebuah perusahaan farmasi yang mengeluarkan obat paten di tahun 2011, maka sudah bisa dipastikan bahwa obat tersebut ditemukan beberapa tahun yang lalu. Kenapa demikian ? Karena penelitian dalam bidang obat-obatan harus melalui proses penelitian yang panjang, mulai dari penemuan, pengembangan, uji keamaan, uji  toksisitas, bioavailabilitas dan masih banyak lagi, bahkan sampai diluncurkan pun obat tersebut masih dalam proses penelitian dan pengembangan. Jika anda membaca jurnal penelitian yang terlampir dalam obat tersebut anda akan menemukan bahwa banyak sekali peneliti  yang terlibat dan penelitian yang dilakukan sudah melalui proses yang sangat panjang. Itu dilakukan tentu untuk menjamin keamanan dan kegunaan obat yang dijual dipasar.

Jadi kalau dibilang obat baru ?….No Way!,…aslinya udah lama ditemukan tapi baru kali ini perusahaan farmasi berani melepasnya ke pasaran.

6. Obat Efek sampingnya Banyak!!!
Jangan takut, Efek samping yang banyak itu muncul karena obat selalu diuji dan setiap peneliti akan melaporkan setiap efek samping yang muncul. Nah kumpulanpenelitian ini kemudian dirangkum menjadi laporan efek samping obat. Biasanya laporan efek samping muncul setelah obat diberikan pada penelitian yang dilakukan pada ratusan-ribuan pasien dan jumlahnya kecil. Kalau efek samping itu muncul pada semua pasien, itu namanya bukan efek samping lagi tapi menjadi efek utama, iya kan ?

Secara umum jika obat diminum dengan sesuai dosis dan waktu yang ditentukan maka efek samping yang muncul tentu kecil. Berbeda jika seseorang mengkonsumsi dalam jumlah berlebihan dan dengan waktu yang lama hingga berbulan-bulan.Jadi sebelum mengkonsumsi obat, pastikan dosis yang diminum dan lama waktu pengobatannya, karena obat yang diminum berlebihan itu dapat memberikan  efek samping .

Ingat : Jika  mengkonsumsi obat sesuai dosis dan mendapatkan efek yang tidak diinginkan segeralah anda melaporkan ke Apoteker atau dokter anda.

7. Obat  tidak dijual sebanyak-banyaknya.
Jika anda pengusaha toko dan seorang pembeli ingin membeli 1000 karton Mie instan, tentu anda akan senang dan menjadikan pembeli itu pelanggan utama anda. Tidak demikian dengan Apoteker yang menjual obat di apotek. jika anda datang ke apotek dan membeli amoxicillin 10 karton, pasti anda tidak akan dilayani. Bahkan anda bisa jadi ditolak mentah-mentah karena dengan jumlah obat yang sedemikian besar itu pasti susah dijelaskan penggunannya.

Jadi mungkin Apoteker satu-satunya penjual  didunia yang  justru tidak mengharap pembelinya membeli obat dalam jumlah besar-besaran, karena selain berbahaya hal tersebut masih perlu ditanyakan untuk apa tujuan obat itu digunakan. Dosis obat kan paling lama 15-30 hari saja (untuk obat tertentu bisa sampai 6 bulan), kalau sampai 10 karton pastinya bikin bingung dan apa laporan penggunaan obatnya.

Fakta Lain tentang Obat

  1. Untuk sirup atau obat cair, yang dimaksud dengan 1 sendok teh adalah 5 ml, sedangkan 1 sendok makan adalah 1 sendok makan. Seringkali kita menggunakan sendok kecil dan besar untuk makan padahal tiap sendok itu berbeda ukurannya dan tidak selalu tepat 5 ml dan 15 ml. Yang paling baik adalah dengan menggunakan gelas takaran yang kadang sudah disediakan pada beberapa produk sirup obat
  2. Jika tertulis pada suatu obat agar diminum seseudah atau sebelum makan, maka sebenarnya diharapkan pasien meminum obat setengah sampai satu jam sebelum atau sesudah makan. Meminum obat segera setelah selesai makan sama saja dengan meminum obat saat makan.
  3. Perhatikan waktu minum obat, jika tertulis 3 kali sehari, idealnya obat diminum dengan jarak 8 jam. Dan jika tertulis satu kali sehari hendaknya diminum pada jam yang sama tiap harinya. Hal ini berhubungan dengan perkiraan lamanya suatu obat berada dalam sirkulasi tubuh sehingga diharapkan dengan minum obat secara tepat waktu, dosis obat dalam sirkulasi tubuh stabil. Namun pada beberapa obat, walaupun dapat bertahan selama 12 jam, kadang peresepannya dapat ditulis 3 kali sehari.
  4. Di indonesia, mudah sekali mendapat obat yang kadang harusnya diberikan dengan resep dokter sehingga sering kali disalahgunakan dan pada antibiotik seringkali berakibat pada resistensi. Penggunaan obat sebaiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu, karena gejala sama belum tentu berasal dari penyakit yang sama.
  5. Setiap obat pasti memiliki efek samping, namun efek samping tidak selalu keluar. Karena itu tidak perlu takut dalam mengkonsumsi obat asalkan berdasarkan advis dokter.
  6. Alergi pada obat kadang tidak diketahui oleh pasien dan merupakan salah satu penyebab terbanyak pasien di Indonesia menuduh dokter melakukan malpraktek.
  7. Obat dalam bentuk injeksi bekerja jauh lebih cepat daripada obat minum, namun sebaiknya dihindari jika pasien masih dapat minum dan obat masih tersedia dalam bentuk oral serta kondisi pasien tidak gawat.
  8. Obat dapat berinteraksi satu sama lain, jadi jika anda sedang menerima pengobatan jangka panjang, hendaknya berkonsultasi jika akan mengkonsumsi obat lain.
  9. Beberapa obat seringkali diisukan menimbulkan ketergantungan pada penggunaan jangka panjang, namun kenyataannya tidak. Ketergantungan hanya timbul pada penyalahgunaan obat yang tidak berdasarkan dari advis dokter.
  10. Penggunaan obat tertentu pada jangka panjang memerlukan pengawasan karena itu, kontrol ke dokter sangat penting. Hindari mengulang resep dengan inisiatif sendiri dengan menggunakan copy resep dari apoteker.

Sumber :

http://bernadimalik.wordpress.com/2011/02/28/ingin-tahu-7-keajaiban-dunia-obat/

http://about-medics.blogspot.com/2011/08/8-fakta-tentang-obat.html