Tag

,

Rasulullah –Shallallaahu ‘Alihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Takutlah kamu terhadap firasat seorang mukmin karena dia melihat dengan cahaya Allah.” (Hadis Hasan).

Pengertian Firasat

Firasat , kalau kita kaji dengan teliti, ternyata terdapat di dalam ajaran Islam. Dalilnya, selain hadits di atas, adalah beberapa ayat Al Qur’an yang menyentuh masalah firasat tersebut, diantaranya adalah firman Allah:

إن في ذلك لآيات للمتوسمين

Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ ( QS Al Hijr : 75 )

Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.

Sebagaimana firman Allah :

ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم

Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya “ ( Qs Muhammad : 30 )

Allah juga berfirman :

يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيماهم

Orang – orang yang bodoh menyangka mereka adalah orang kaya, karena mereka memelihara diri dari meminta- minta , kamu mengetahui mereka dengan tanda- tandanya “ ( QS Al Baqarah : 273 )

Ketika hati memiliki hubungan dengan Allah subhanahu wata ‘ala dan anggota-anggota badan bekerja untuk berbuat ta’at kepada-Nya dengan menahan dari hal-hal yang diharamkan-Nya, maka Dia akan mengaruniai cahaya ke dalam hati yang dengannya ia dapat membedakan antara haq dan batil, antara orang-orang yang jujur dan orang-orang yang berdusta.!

Pemilik hati dan anggota badan seperti ini, melihat secara hakiki melalui cahaya dari Allah subhanahu wata’ala. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang mengenali manusia dengan memperhatikan tanda-tanda (firasat).” (Dihasankan Syaikh al-Albani) Pengetahuan batin dan anugerah seperti inilah yang sering dinamakan ulama sebagai Firasat Imaniah.

Sebagian ulama mengatakan, “Firasat adalah bersitan pertama (dalam hati), tanpa penentang; jika ada penentang dari yang sejenisnya, maka disebut Hadits an-Nafs (kata hati), bukan firasat.”

Salah seorang ulama mengatakan, “Firasat hanya terjadi melalui penanaman iman. Selamanya, tidak akan ada firasat tanpa iman. Iman diserupakan dengan tanaman sebab ia selalu bertambah, tumbuh dan bersih dengan siraman, buahnya dapat dihasilkan setiap waktu atas izin Allah subhanahu wata’ala, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Barangsiapa yang menanam iman di ‘bumi’ hatinya yang baik dan bersih lalu menyiraminya dengan ‘air’ keikhlasan, kejujuran dan mutaba’ah, maka sebagian dari buahnya adalah firasat.”

Amru bin Najid berkata bahwa Syah al-Karmani adalah seorang yang tajam firasatnya. Dia pernah berkata “Barang siapa memalingkan pandangannya dari hal-hal yang haram, menahan nafsunya dari syahwat-syahwat angkara murka, memakmurkan batinnya dengan pengawasan (instrospeksi – muroqobah), dan segala amalan lahiriyahnya mengikuti sunnah Nabi, dan membiasakan dirinya makan makanan yang halal, maka firasatnya selalu tepat dan tak akan meleset”

Kisah Firasat Imam Syafi’i

Imam asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris asy-Syafi’I -Rahimahullah, Imam madzhab fikih yang dinisbatkan kepadanya yang dianut oleh jutaan kaum muslimin di penjuru bumi, beliau mempunyai kedudukan terhormat di mata para imam dan ulama di masanya bahkan di mata para pesaingnya dari kalangan ulama.

Hampir tidak ada disiplin ilmu kecuali dia pasti menguasainya dengan baik, dalam fikih beliau adalah imamnya, dalam sunnah beliau adalah nashir as-sunnah, dalam bahasa beliau adalah hujjah, dalam sastra beliau adalah seorang penyair mumpuni, dan dalam memanah beliau adalah jagonya, sampai-sampai dari sepuluh anak panah yang beliau lepas lewat busurnya tidak ada satu pun yang meleset. Di antara ilmu yang beliau kuasai adalah ilmu firasat. Benar, beliau memilki firasat tajam.
Suatu hari Imam Asy-Syafi’i didatangi oleh seorang laki-laki yang bertanya kepadanya tentang masalah syar’i, maka Imam Asy-Syafi’i bertanya, “Apakah kamu seorang tukang tenun?” Laki-laki itu menjawab, “Benar dan aku memiliki beberapa pegawai.”

Suatu kali seorang laki-laki mendatanginya dan bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Imam Asy-Syafi’i bertanya kepadanya, “Kamu dari kota Shan’a?” Dia menjawab, “Benar.” Imam Asy-Syafii berkata, “Menurutku kamu adalah pandai besi?” Dia menjawab, “Benar.”

Dalam biografi Imam Asy-Syafi’i ditulis bahwa Imam Asy-Syafi’i duduk bersama teman akrabnya Muhammad bin Hasan memperhatikan orang-orang. Lalu seorang laki-laki melewati keduanya. Muhammad berkata, “Tebaklah dia.” Imam Asy-Syafii menjawab, “Aku ragu, kalau tidak tukang kayu, ya tukang jahit.” Humaidi perawi cerita ini, “Lalu aku menemui laki-laki itu dan bertanya, “Apa pekerjaanmu?” Dia menjawab, “Dulu tukang kayu dan sekarang tukang jahit.”

Kisah Imam Syafi’i Lainnya

Imam Syafi’I mengisahkan, “Ketika sedang menempuh suatu perjalanan, aku melewati seseorang yang sedang berdiri di halaman rumahnya. Kedua matanya biru dan dahinya melengkung. Aku berkata kepada diri sendiri, ‘Ilmu firasat berkata, orang ini bersifat buruk’. Aku bertanya kepadanya, “Bisakah kami bermalam di sini?”, Ia menjawab, “Bisa”. Lalu kami pun bermalam di rumahnya.  Ternyata orang itu sangat baik. Aku belum pernah melihat orang yang seramah dan sepemurah dia. ia menyediakan makan malam, makanan untuk keledai, kasur, dan selimut. Aku pun berkata, “Semula , menurut ilmu firasat, orang ini tidak berbudi, tetapi faktanya justru sebaliknya. Ternyata ilmu firasat itu batil”.  Pada pagi hari, aku berkata kepadanya, “Apabila Anda berkunjung ke Mekah dan melewati Dzit-Thuwa, tanyakan rumah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I” Orang itu menjawab, “Apakah aku pelayan bapakmu?”, Aku bertanya, “Apakah maksudmu?”. Ia berkata, “Tidakkah engkau berpikir, apakah yang mendorong berbuat segala sesuatu untukmu semalam ini?”. Aku bertanya, “Apakah itu?”. Ia menjawab, “Aku membelikan makanan untukmu dua dirham, lauk pauk sekian dirham, makanan keledai sekian dirham”. Aku menyuruh pembantuku untuk menghitung dan melunasinya, lalu bertanya, “Masih ada?”. Ia menjawab, “Sewa rumah. Aku melapangkannya untukmu dan menyempitkannya untuk keluargaku”. Aku memberikan semua yang dimintanya. Selanjutnya, SYafi’I berkata, “Setelah peristiwa ini, makin kokohlah keyakinanku tentang ilmu firasat”.

Sumber :
http://www.alislamu.com
http://www.hatibening.com
http://www.alsofwah.or.id