Tag

,

Kalau di dasawarsa 1980-an mungkin PC (Personal Computer) adalah technology yang paling heboh pada saat itu. Mulanya, PC belum ada Windows, masih memakai Disk Operating System (DOS). Pertama kali Windows muncul, apa sih, Windows? Apakah ada semacam “Jendela” untuk yang membantu kita “mengintip” PC??

Dasawarsa berikutnya (the next decade) – internet yang mendominasi dunia IT. Awalnya, belum ada DSL atau high speed internet. Kita masih memakai phone-line (modem) untuk internet on-line sehingga telpon nggak bisa dipakai. Belum ada telepon genggam (HP). Baru di pertengahan dasawarsa 1990an HP mulai merajalela, tapi pada mulanya ukurannya gedhe seperti batu bata. Internet mulai cepat dan mulai memiliki graphic dan browser seperti Internet Explorer, Netscape, dan lain-lain.

Facebook (FB) kemudian yang mendominasi dasawarsa yang baru lewat ini. FB yang diciptakan oleh mahasiswa dropped-out dari Harvard di tahun 2003, sekarang mempunyai 500 juta pemakai di seluruh dunia.

Total penduduk AS sekitar 300 juta. Dengan kata lain, pengguna FB di seluruh dunia hampir mencapai dua kali lipat total penduduk AS. Total penduduk bumi sekitar 6 Billion, dengan kata lain, 8.3% umat manusia di bumi ini punya facebook account. Ini adalah phenomenon yang luar biasa. Tak heran, FB sekarang menjadi US$ 50 Billion company, sebuah prestasi yang luar biasa dalam jangka waktu relative cukup singkat. 


Dibalik itu semua, FB memiliki kelemahan dan ketidaksempurnaannya. terlebih lagi FB adalah “buatan manusia”, yang pastinya tidak luput dari segala kekurangan. mungkin tidak hanya dalam sistem & teknologinya, tapi juga dalam lingkup sosial & psikologis.

Berikut beberapa alasannya:


1. Identity Theft & CV on FB
Dan alasan utama kenapa FB tidak disukai…adalah pencurian identitas. Banyak orang dengan bangga mencantumkan CV (resume) di FB. Bahkan, lebih dari itu, ada yang mencantumkan data-data pribadi seperti alamat rumah, no telpon, tanggal lahir, dan seterusnya. Heran, kenapa nggak sekalian cantumkan rekening bank (bank account) dan SSN saja?

Just to let you know that all your private information on FB does not belong to you, but they belong to FB! Jadi, FB punya hak penuh atas semua information (private and public) dan semua foto-foto yang Anda pasang di FB. Tergantung bagaimana Anda men-set privacy pada profile Anda. Bisa jadi, semua orang (nggak harus “friends” Anda) bisa melihat data-data pribadi Anda. Tetapi, kalau hackers punya admin access, dengan mudah hackers akan mengambil semua data pribadi Anda.

Pernah mendengar “Identity Theft”, bukan? Data-data pribadi Anda dengan mudah diambil di FB dan digunakan oleh orang lain tanpa sepengetahuan Anda. Biasanya, begitu Anda sadar, semua sudah terlambat.

“Identity Theft” merupakan crime yang cukup serious di US. Data-data pribadi Anda di FB merupakan commodity yang laku keras di internet. Apalagi kalau Anda tinggal di US, punya kerjaan bagus, credit history bagus, good employment record, ini merupakan sasaran empuk untuk menjadi korban “Identity theft”.

Contoh yang gampang, orang lain dapat data pribadi Anda dari FB — alamat, nama lengkap, dan tanggal lahir Anda. Walapun Anda tidak cantumkan SSN di FB, dengan informasi seperti ini, orang tersebut bisa menjual info Anda di internet atau memakai info tersebut untuk kepentingan pribadi dia, tanpa Anda ketahui.

Mungkin Anda bingung, ngapain sih orang lain mau data pribadi saya? Apa untungnya? Sekali lagi, di Indonesia, jarang sekali terdengar “identity theft”. Tetapi di Amerika Serikat, hal ini merupakan kejahatan yang tumbuh pesat dan menjadi ancaman serius.

Amerika Serikat, negara yang punya penduduk sekitar 300 juta orang dan punya banyak immigrant, baik legal maupun illegal. Jumlah illegal Immigrant (Orang Gelap) diperkirakan mencapai 12 juta orang. Karena mereka gelap, mereka nggak bisa mencicil mobil, apply credit card, dan mereka nggak punya credit history.

Di sini, jika ingin ngapain saja seperti membeli mobil atau rumah, mencari kerja (apalagi kerja yang pakai security clearance), credit history & background check selalu diperiksa. BUKAN berarti setiap orang “gelap” pasti akan MENCURI data pribadi Anda. Bisa saja US Citizen. Tetapi, jika sebelumnya seseorang mempunyai credit history jelek, US Citizen bisa saja mencuri data pribadi orang lain untuk mengambil jalan pintas.

Dengan punya credit card atas nama orang lain, orang tersebut bisa shopping ribuan dollar tanpa harus bayar. Toh bukan nama dia, gitu pikirnya. Credit card company akan mencari nama orang yang tertulis di credit card tersebut. Ketika si pemilik nama di kartu kredit mengetahui, dia kaget mengetahui dirinya sudah menjadi korban “Identity Theft”. Dan, dia harus membayar tagihan credit card yang jumlahnya ribuan dollar, padahal bukan dia yang menggunakan.

Sekali lagi, ini masalah yang paling serious di US. Semakin banyak kita memasang data pribadi di FB, semakin mudah kita bakal menjadi korban “Identity Theft” 


2. FB & Dangerous Online Activities
Anda yang punya FB pasti mengetahui, di FB, kita bisa main game seperti FarmVille atau Mafia wars. Wah, kadang-kadang games seperti ini bisa membuat kecanduan. Malam-malam rela begadang hanya untuk bermain Mafia Wars.

Asal tahu saja, ketika bermain games, aplikasi tersebut mengirimkan facebook id Anda ke berbagai company dan data firms. Yang lebih cilaka lagi, aplikasi tersebut juga mengirim informasi tentang teman-teman Anda di FB. (Baca: Facebook Admits to Privacy Issue and Makes Fixes dan Facebook in Privacy Breach)

Jadi, misal Anda punya teman A di FB, Anda tidak pernah bermain FarmVille atau Mafia Wars. Tetapi si A, temen Anda di fb selalu bermain Mafia Wars. Nah, semua personal information teman A di FB, termasuk Anda, terkirim kepada pihak ketiga (the third party) tanpa Anda sadari dan tanpa si A sadari.

Sekali lagi, sampai detik ini, belum ada privacy law di Amerika Serikat yang mengatur hal ini. Jadi sampai saat ini, ini masih legal. 


3. FB & Data Mining
Sadarkah Anda, setiap kali online, kegiatan Anda selalu dimonitor? Ini bukan hanya ketika Anda sedang ber-FB ria. Di FB terdapat banyak sekali iklan. Itu memang sumber duit FB. Data mining semacam ini legal di USA. Bagi Anda yang belum pernah mendengar istilah data mining, inilah definisinya:
“It is the process of extracting patterns from data. Data mining is seen as an increasingly important tool by modern business to transform data into business intelligence giving an informational advantage. It is currently used in a wide range of profiling practices, such as marketing, surveillance, fraud detection, and scientific discovery.”
Jadi, jika Anda meng-klik suatu link waktu Anda login ke FB, lalu Anda membeli sesuatu secara online, maka mereka akan mengetahui Anda meng-klik website mereka dari FB. Di kemudian hari, waktu Anda login ke FB lagi, mereka tahu kapan Anda login ke FB. Lalu, Anda mendapat spam dan berbagai macam iklan dari produk mereka. 



4. FB & Group Vulnerability
Anda yang punya FB pasti ikut group. Ada banyak group, misalnya lulusan SMA Tarakanita (TARKI), lulusan SMA Kanisius, Michigan State University alumni, dan lain-lain, dan lain-lain.

Yang ginian masih mending deh. Yang bener-bener nggak mutu itu misal, group macem seperti ini, nih: free Tibet on facebook. Ini bener-bener, sama sekali, TIDAK BERGUNA! Apakah hanya dengan petisi on facebook lalu pemerintah Cina akan memberikan otonomi penuh ke Tibet? NO WAY!!

Yang lebih cilaka lagi, udah status Tibet tetap sama saja, sadarkah Anda, kalau Anda bergabung dalam group-group macem gitu, data pribadi Anda yang disimpan di FB (beserta foto-foto pribadi) bisa dibajak (hijacked). Semua itu bisa digunakan untuk kepentingan lain-lain yang tidak Anda inginkan? (Silahkan baca: Facebook Groups Hacked Good Cause).


 5. FB & Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak
Memang betul, dengan FB, Anda bisa punya teman tanpa mengenal batas negara, batas kota, batas benua. You can have friends without border. Tetapi akibatnya, Anda begitu kecanduan dengan FB sehingga Anda tidak peka dengan keadaan di sekeliling Anda lagi. Seperti pepatah lama: “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. 



 6. SKSD on FB
Ini yang paling gemas (ato menyebalkan). Misalnya punya teman D di FB, dan si D punya teman E di FB, apakah berarti Anda dan E juga (harus) temenan? NO! A friend’s friend does not necessary be our friend! Paling sebel kalau dapat “friend request” dari orang yang nggak di kenal. Jadi kesannya kok SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)! 



7. FB & your productivity
Anda yang punya FB, coba bertanya pada diri sendiri. Dalam satu hari, berapa jam Anda di FB? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Bayangkan, berapa waktu yang terbuang hanya untuk nongkrong di FB. Kerjaan kantor dan kerjaan rumah bisa tertinggal. Sudah banyak kejadian, pegawai dipecat gara-gara ber-FB ria terus tiap hari di kantor sehingga pegawai tersebut tidak productive lagi. 



 8. FB & Pedophile
Kita kecanduan FB boleh-boleh saja, toh kita semua orang dewasa. Tetapi, MOHON JANGAN bawa anak-anak kita ke FB. If you don’t give a damn about yourself, please think about your own kids!

Orang Indonesia biasanya, saking hebohnya dengan FB punya anak 3, ketiganya dibuatkan FB account semua. Toh, gratis ini pikirnya. Terus dengan bangganya pasang foto-foto anaknya di FB, ketika anaknya mencapai umur 7 atau 8, si anak sudah otomatis kecanduan FB semua. Memang, rasanya agak jarang dengar pedophile di Indonesia. Tapi di US, buanyak buanget! (Baca:Pedophiles Finds Home Social Netwroking Facebook)

Pedophile ini juga membuat account FB atau myspace dengan mengaku umurnya 12 atau 13 tahun. Dia mencari mangsa anak-anak. Lalu, kalau dapat anak-anak “seumuran” dengannya, ia mulai menanyakan tempat tinggal mereka, tinggal di mana, di rumah ada ortu atau tidak. Lalu, dia mengajak kencan anak-anak di bawah umur.

Coba tonton acara Dateline NBC with Chris Hansen dimana semua pedophile dijebak dan ditangkap. Heran, orang-orang seperti itu suka ngeseks dengan anak-anak di bawah umur. Sekali lagi, sebagai orang tua, Anda harus tahu persis dengan siapa anak-anak Anda online.

Remember you can be anybody out there on the internet! As parents we ought to protect our kids at all costs! 


9. FB & Narcissist
FB selalu tentang diri kita sendiri. “Gua mau ke salon nich”, “Gua mau ke Mall dulu ah”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Look, I just came back from overseas trip. Look, I have a new car, house, North Face jacket, look at me!! Please comments on my picture“, they’re craving for attention. In fact, it’s all about ME! In my narcissism, I just assumed that everyone else wanted to hear the tiny details of my day


10. Jalan-jalan ke LN & the “V” sign on FB
Wah, kalau baru pulang jalan-jalan, apalagi jalan-jalan dari Luar negeri (LN), FB pasti langsung heboh dasyat. Semua foto-foto di-upload ke FB. Apalagi kalau bisa jalan-jalan sampai ke Eropa atau USA ketika sedang musim dingin, ada saljunya. Itu jacket North Face mati-matian di-zoom abis supaya tulisan “North Face”-nya bisa terbaca di FB. Padahal, North Face beli di Mangga Dua, kita juga nggak tahu. Ya, nggak?

Jangankan pergi jauh-jauh ke USA atau Eropa, ke Singapore saja foto-foto yang di-upload ke FB buanyaak buangett. Dari shopping di Takashimaya, Wisma Astria, dan ION Orchard, sampai naik MRT ke Bugis, Ang Mo Koi, Yishun, dan tunggu bus di Geylang. Pokoknya, setiap jengkal Singapore yang mungil itu ada fotonya di FB. Sudah begitu bilang; “Jangan lupa kasih comment yach?” Begitu mintanya. Apalagi kalau sempat ke Universal Studio yang baru buka di Singapore, wah heboh berat tuh FB!!

Udah gitu hampir semua foto posenya sama, dengan jari telunjuk & jari tengah diacungkan membentuk huruf “V”, the victory sign – so typical Asians such as Indonesians, Japanese, Koreans, Chinese. Hampir di semua foto selalu acungkan huruf “V”. KENAPA SIH?? Memang apa, sih? Jadi pengin tahu.

Tetapi soal pamer jalan-jalan ke LN ini bukan hanya monopoli orang Indonesia saja. Ada cerita teman, di kantor dia punya teman orang Philippines. Ceritanya, dia baru pulang jalan-jalan dari Israel, Egypt & Jordan. Seharusnya, hari Rabu dia masuk kantor. Tetapi, pada hari itu, dia tidak ada di kantor. Ternyata, dia katanya sakit lalu istirahat di rumah. Jadi, hari Kamis baru masuk kantor. Tetapi, hari Rabu dia seharian active di FB, chatting dan upload foto-foto vacation from Israel, Egypt, and Jordan. Rabu sore, teman saya telepon dia, mau tanya apa kabar, masih sakit? Eh dia langsung bilang gini, “Did you check my latest pictures on FB? Don’t forget to leave your comments”.

Loh, kok? Katanya sakit, kok, seharian penuh sibuk ber-FB ria? 


11. North Face & Facebook
Segalanya gak harus di share juga, apalagi sampai hal2 detail seperti merk jaket. Seperti seseorang yang memajang potonya lalu dikomen sama temannya.
Xyz: Dimana nich?
Abc: L.A donk!
Xyz: Keren amat tuch jacket loe
Abc: Iya lah, North Face!
Xyz: Pantesan, anak loe juga keren abis!
Abc: Iya lah, pan seperti mommy he..he..he.. North Face juga loch!
Mungkin karena di Indonesia tidak pernah punya kesempatan pakai jacket karena selalu panas, jadi mumpung di L.A lalu ngeceng di Facebook pakai jacket North Face. Again, we don’t need to know nor care if she has North Face jacket. 



12. TMI on FB
FB betul-betul TMI (Too Much Information). Ada yang gemar sekali update FBnya. Satu hari bisa puluhan kali dan selalu hal-hal yang nggak penting. Contohnya temen cewek saya, “Sebel banget nich! Udah hampir 1 jam cari parkir di Taman Anggrek mall nggak dapet”. Beberapa menit kemudian, langsung ramai ada yang bilang, coba cari parkir di sini, di sono, dan seterusnya. Should we really care if she can’t find a parking spot on a freakin’ mall, half-way around the world? She could use valet service!!!

Lha, kalau tiap hari baca posting-nya dan tahu segala macam kegiatan, dari “Wah gua mau ke salon nich” sampai “Baru terima raport, si Brenda juara satu lagi”. Kenapa mau ke salon saja harus bilang ke semua orang? Iya udah, pergi aja sono cepetan ke salon! Dalam satu hari bisa mendengar 10 kali dari orang tersebut! Nggak salah? 


13. CLBK & NF on FB
Dengan FB, Anda bisa mencari teman lama, pacar lama (old flame, dirty laundry, former naked friend, or whatever you want to call it). Nah, kalau sudah ketemu your old-naked-friend (NF), pasti pikiran melayang jauh ke masa lampau. The first kiss, the first touch, the first time you got naked together with that person, etc.

Kalau sedang ribut dengan suami/istri, dengan adanya FB, Anda dengan mudah curhat ke old-flame Anda, yang tentu saja pernah mengenal Anda di masa lampau. Sedikit demi sedikit CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), apalagi kalau sudah melihat foto your old-naked-friend after 20 years still looking pretty darn good. Lalu, Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, “Why did we break-up back then?” Dan lebih gawat lagi, kalau Anda lalu berpikir, “Why did I marry to this man/woman?”

Dari innocent chatting and innocent wall postings, sedikit demi sedikit mulai bicara tentang masa-masa indah di masa silam. Masa-masa waktu Anda masih muda, belum terikat oleh tanggung jawab sebagai istri/suami, sebagai ibu/ayah, sebagai full time worker di kantor Anda.

Masa-masa muda waktu kuliah dulu, duit masih dikirim oleh ortu, perut belum buncit, performance masih bagus, nggak seperti sekarang, sudah loyo. Semua pembicaraan ini dapat diterima baik oleh “Naked Friend” (NF) Anda karena Anda berdua pernah melalui masa-masa indah bersama-sama. Apalagi, misal, Anda berdua masih tinggal di kota yang sama.

First it was just an innocent wall posting on FB and then online chattings, followed by face-to-face rendezvous and finally CLBK and the next thing you know, you got naked again together with your old naked-friend. It’s like rekindling your naked experience after not getting naked for 20 years! 


14. FB & Divorce Rate
Menurut banyak laporan media di US dan UK, FB menjadi penyebab perceraian dari banyak perkimpoian di Amerika Serikat dan Inggris. (Baca: Survey Shows Facebook Driving Divorce Rate).

Yang lebih cilaka, orang yang hendak bercerai bukan bilang ke istrinya dulu, melainkan post di FB. “Masak, sih, gara-gara FB perkimpoian bisa hancur? Kalau perkimpoiannya emang udah retak, ya, jangan salahkan FB dong!” Mungkin banyak dari Anda yang mengatakan demikian. 


15. FB & potential future employer
Sekali lagi, dijaman digital age macam ini, hati-hati kalau berpendapat di internet. Ingat pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”.

Semua yang pernah Anda tuliskan di internet seperti di media internet apapun, akan selalu bisa dicari sampai kapanpun juga, asal Anda tahu cara mencarinya. 


16. Burn the bridges vs. mend the fences on FB
Setiap orang punya sifat yang berbeda dan punya latar belakang yang berbeda. Sama-sama orang Sunda, sifat dan latar belakangnya bisa berbeda. Apalagi ,teman di FB yang tidak mengenal batas negara, benua, samudera (friends without border). Akibatnya, teman-teman di FB mempunyai latar belakang dan culture yang sangat berbeda dari kita. Apa yang kita anggap lucu atau normal, mungkin tidak lucu (offensive) dan tidak normal di budaya lain, di benua lain.

How about dirty jokes? Kalo buat temen tidak masalah, tapi jika ada yg tersinggung?? Apalagi kalo sudah masalah SARA. kalo di KASKUS mungkin bisa dilaporin, trus di banned ato diclosed permanen. kalo di FB?? 


17. Quality Not Quantity
Pedoman di dalam mencari teman sangat sederhana, “lebih memilih punya temen sedikit tapi betul-betul temen dekat, daripada mempunyai banyak teman tetapi hanya sebagai teman basa-basi”. It’s about quality not quantity!

Sekarang, kepada Anda yang mempunyai FB dan 100 teman di FB, “apakah Anda yakin 100 teman Anda tersebut betul-betul akan menolong Anda kalau Anda sedang mendapat musibah?” Mungkin, 95 orang dari mereka hanya akan Post di Wall Anda dan mengatakan sorry. Yang membuat lebih MUAK, Anda bisa membeli teman di FB. Yes, friends for sale on FB.

Kenapa harus membeli temen di FB? Supaya kalau orang-orang melihat, WOW keren banget. Ente POPULAR, ente punya temen 2 ribu di FB! Who cares if you have two thousand friends on FB? 


18.Crooks also watching you on FB
Sebelum pergi liburan, Anda meng-update FB dulu, “Going away on vacation”. Anda tahu nggak siapa saja yang membaca posting Anda tersebut? Bagaimana kalau “penjahat” membaca FB Anda, lalu dia menguras habis isi rumah Anda ketika Anda liburan?

Saya tidak menuduh salah satu teman FB Anda menjadi penjahat, tetapi penjahat nggak harus jadi temen Anda di fb. Adalah sangat mudah membaca posting orang lain di FB tanpa harus jadi temannya, tergantung privacy setting Anda di FB. (Baca: Is Your Facebook Friend A Digital Criminal


19. You can run but you can’t hide on FB
Kisah nyata tentang seorang kriminal yang dicari oleh polisi. Selama pelariannya, dia meng-update status FB-nya. Akhirnya, polisi bisa menangkapnya. (Baca: Escaped Criminal Taunts Police Facebook enjoy Christmas Run dan Criminal Caught on Facebook)

Polisi dan private investigators, terutama yang disewa oleh insurance company, sering sekali men-cek FB dan twitter. Misal, Anda ditabrak mobilnya si X. Jadi, Anda meng-klaim ke asuransi mobil si X meminta $100,000 dan Anda mengatakan sakit berat, nggak bisa ke mana-mana. Tetapi, Anda meng-update FB Anda dan mengatakan “I’m at the mall!” Nah, dengan bukti posting Anda di FB, private investigator yang disewa asuransi mobil si X bisa mengatakan kalau Anda bohong (commited fraud) dan Anda bisa dipenjara.

Contoh lain, Anda mengatakan kepada boss, hari ini Anda nggak enak badan (sakit). Eh…., lalu Anda meng-update fb dan menuliskan “I’m having a blast at the mall, everything is on sale, you gotta be here”. Bagaimana jika orang kantor membaca FB Anda? Ketangkap basah, dah! 


20. FB is a closed system
FB adalah closed system bukan open system. FB mengingatkan kepada AOL yang dulu sempat popular banget, tapi sekarang biasa-biasa saja. Kalau mau mengekpresikan diri, coba pakai www.wordpress.com. Di WP bisa membuat blog sendiri, tanpa harus ada rasa cemas kalau data pribadi bakal dijual ke pihak ketiga. 



Jadi masih mau “TERLALU TERBUKA” di FB??? mendingan pikir 10-20 kali, bahkan di Social Media manapun Anda beraktifitas, sebisa mungkin “JANGAN TERLALU” mengumbar informasi pribadi Anda.
Intinya, tidak ada yang melarang Anda untuk menggunakan dan memberikan informasi apapun tentang diri Anda, baik di FB ato social media apapun, toh Anda sendiri yg bertanggung jawab atas informasi yang Anda bagi, bukan orang lain!