“Sarjana kok jualan buku ?”
“Kuliah susah-susah kok cuma kembali ke sawah tokh ?”
“Kenapa ndak buka praktek di kota saja mbak ? Kok malah bikin klinik kecil di kampung ?”

Pertanyaan-pertanya an standar seperti ini masih sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat, bahkan dari kalangan orang tua para siswa atau mahasiswa.
Pertanyaan-pertanya an itu sudah menjadi semacam “tekanan sosial”, bahwa kalau sudah kuliah maka mestilah jadi orang kantor, harus jadi pegawai di kota, berdasi, punya jam kerja 8 – 5 setiap hari, dan seterusnya.

Ironis memang, di satu sisi kita mengeluhkan kualitas pendidikan di negeri ini, sementara disadari atau tidak, kita juga memiliki sumbangsih tidak kecil pada kesalahan orientasi pendidikan di negeri ini, salah satunya lewat pertanyaan “remeh temeh” tadi.

***
Mungkin anda ingat kasus seorang ibu yang membunuh tiga orang anaknya di Bandung karena khawatir akan masa depan anaknya di tengah himpitan ekonomi yang makin berat.
Menjadi menarik, karena sang ibu adalah salah satu lulusan terbaik sebuah institut teknologi terkemuka di negeri ini, dan juga aktivis masjid kampus tersebut, yang terkenal dengan konsep latihan mujahid da’wahnya. Rupanya modal pintar dan sholeh individual saja belum cukup untuk “tidak berputus asa dari rahmat Allah”.
Seorang sahabat bercerita, salah satu episode dari peristiwa itu adalah pertemuan-pertemuan alumni kampus, dimana pertanyaan-pertanya an standar itu masih juga ada,
“Sudah jadi manajer dimana sekarang ?”
“Salary sekarang sudah berapa digit bro ?”
“Sudah ke negara mana saja antum ?”
“Tugas di kantor cabang negara mana sekarang ente ?”

Anda bayangkan bagaimana tingginya tekanan sosial yang terjadi di pertemuan alumni seperti itu. Karena yang bicara bukan lagi ibu-ibu kampung yang sederhana, tapi sudah manusia-manusia yang bergelar master dan doktor. Dan tekanan sosial itu kadang lebih kuat dari idealisme yang dibangun, dan berkembang menjadi fatal, saat tekanan sosial itu lebih besar dan lebih kuat dari iman yang dimiliki di dalam dada. Lahirlah darinya generasi koruptor dan bertopeng, pemimpin-pemimpin tanpa izzah dan pengusaha-pengusaha oportunis.
Sebab itu, sebuah komunitas yang baik adalah komunitas yang ketika kita berada di dalamnya, yang teringat adalah Allah dan Hari Akhir.
Bukan tanpa alasan manusia sholeh sekelas Nabi Yusuf alaihi salam pun masih berdoa pada Allah untuk dikumpulkan dengan orang-orang yang sholeh :

“… wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholeh” (Al Quran Al Kariim Surah Yusuf ayat 101)

Begitupun Nabiullah Ibrahim alaihi salam :
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh” (Al Quran Al Kariim Surah Asy Syu’ara ayat 83)

Karena suatu lingkungan yang sholeh mampu menjadi obat keputusasaan. Lingkungan yang baik akan membuat kita dapat melihat sesuatu yang lebih hakiki daripada kondisi fisik lahiriahnya. Boleh jadi seseorang tampak tak berpunya, tapi cahaya manfaatnya begitu besar untuk masyarakat sekitarnya.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah memulai dari diri dan anak-anak kita. Sudah sepatutnya beban yang dipikul di pundak mereka bukanlah beban mengejar gelar dan status duniawi, tetapi kehormatan di hadapan Allah dan orang-orang mu’min.

Dan itu bisa kita lakukan dengan mulai merubah pertanyaan-pertanya an standar kita menjadi :
“Bagaimana kabar iman antum pagi ini ?”
“Bagaimana ? Sudah nambah berapa halaman hafalan Quran antum bulan ini ?”
“Bagaimana anak-anak ?
“Sudah hafal gerakan sholat ?
“Mengerti arti dan maxud ayat2 yang di baca?”

Bahkan, pertanyaan berbau ukhrowi seperti ini saja masih terbuka peluang dijangkiti penyakit ujub, riya’, sum’ah dan takabur, apatah lagi pertanyaan-pertanya an yang jelas-jelas berorientasi duniawi. Dan tugas kita pula adalah terus melatih agar perlahan-lahan, penyakit sosial ini bisa lenyap dari diri dan keluarga kita.

Kita tutup nasehat sederhana pagi ini dengan ayat Quran yang indah itu :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba- Nya.”
(Al Quran Al Kariim surah Ali Imran ayat 14 dan 15)

Sumber : status Sudjanamihardja Elab